Surabaya, Kampus Ursulin – Sanmaris. Dunia di mata anak usia dini adalah sebuah laboratorium besar yang penuh dengan keajaiban. Kegiatan ekstrakurikuler sains mengajak anak-anak untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi ilmuwan cilik. Kegiatan ini bukan sekadar bermain air atau warna, melainkan sebuah stimulasi menyeluruh bagi tumbuh kembang mereka.
Dari sisi kognitif, anak-anak belajar mengamati fenomena sebab-akibat dan mengasah daya nalar. Secara psikomotorik, aktivitas seperti menuang cairan atau meniup gelembung melatih koordinasi tangan dan mata mereka dengan presisi. Lebih dari itu, sains menyentuh aspek sosial-emosional dan nilai Serviam (cinta dan belas kasih, integritas, serta totalitas). Di sana, anak-anak belajar sabar menunggu proses, bekerja sama, serta mensyukuri keindahan alam ciptaan Tuhan.
Keajaiban sains dua pekan ini bermula dari eksperimen "Jembatan Warna" menggunakan teknik peresapan air pada tisu. Anak-anak terlihat sangat fokus saat melihat air berwarna mulai merambat naik melawan gravitasi dan pindah ke gelas lainnya. Melalui proses kapilaritas sederhana ini, mereka belajar bahwa sesuatu yang tampak diam ternyata memiliki energi untuk bergerak. Salah satu momen yang menyentuh adalah ketika salah satu anak berseru dengan penuh semangat, "Bu, lihat! Airnya bisa naik terus masuk ke gelas sebelahnya! Airnya bercampur jadi ungu! Hore, berhasil!" Celoteh polos ini menunjukkan bahwa rasa ingin tahu (curiosity) mereka sedang bekerja dengan sangat aktif.

Keseruan berlanjut saat kami mencoba eksperimen "Gelembung Pelangi Panjang". Menggunakan botol air mineral yang dipotong bagian bawahnya dan ditutup dengan tisu basah yang diberi pewarna, anak-anak belajar tentang tekanan udara. Saat ditiup dari mulut botol, muncul gelembung kecil dalam jumlah banyak yang menyatu menjadi barisan gelembung panjang berwarna-warni. Scott, anak TK B1, berteriak kegirangan sambil menunjukkan hasil tiupannya, "Wah, aku bisa bikin ular pelangi! Panjang sekali, Bu, seperti belalai gajah!" Kegembiraan seperti inilah yang membangun rasa percaya diri anak bahwa mereka mampu menciptakan sesuatu yang menakjubkan dari barang bekas di sekitar mereka.

Namun, sains juga mengajarkan tentang nilai Serviam (ketangguhan) saat sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Ada kalanya gelembung tidak mau keluar karena tisu terlalu basah atau tiupannya kurang kuat. Di saat inilah karakter si kecil diuji. Kami mengajarkan bahwa "belum berhasil" adalah kesempatan untuk mencoba lagi. Celoteh jujur seperti, "Bu, apa yang salah? Kok tidak bisa jadi gelembung panjang? Aku coba tiup lebih kuat lagi, ya!" menunjukkan bahwa mereka mulai belajar menganalisis masalah dengan cara yang positif dan tidak mudah menyerah.

Sains tidak harus berhenti di sekolah; orang tua bisa menghadirkan keajaiban ini langsung dari dapur rumah. Untuk melanjutkan rasa ingin tahu si kecil, Bapak/Ibu bisa mengajak mereka bereksperimen dengan benda sederhana, seperti mengamati minyak dan air yang tidak bisa menyatu, atau melihat bagaimana sayuran berubah warna saat direndam air pewarna. Kunci utamanya bukanlah pada hasil akhir yang sempurna, melainkan pada proses diskusi. Jangan takut berantakan, karena di balik sisa air yang tumpah, ada sel-sel otak si kecil yang sedang terhubung dengan sangat pesat. Mari kita beri ruang bagi mereka untuk terus bertanya dan bereksperimen, karena setiap penemuan kecil hari ini adalah langkah besar bagi kecerdasan mereka di masa depan.
Penulis: Tari – Guru KB-TK Santa Maria Surabaya