Surabaya, Kampus Ursulin-Sanmaris – Selama dua hari penuh, atmosfer ruang kelas B1 KB-TK Santa Maria Surabaya dipenuhi oleh semangat belajar yang luar biasa. Melalui workshop Explorative Learning yang dipandu langsung oleh pakar pendidikan, Dr. Ignatius Agus Budiono, M.Pd., para guru diajak untuk merefleksikan kembali peran penting mereka. Workshop ini membuka kesadaran baru bahwa tugas utama seorang guru bukanlah sekadar mengisi "botol kosong" atau menuntut anak menghafal materi di atas kertas. Sebaliknya, guru harus mampu mendesain cara berpikir anak melalui pengalaman langsung. Dengan atmosfer yang santai namun sarat makna, Pak Budi—begitu beliau biasa dipanggil—mengingatkan bahwa bagi anak usia dini, bermain adalah bentuk kerja nyata mereka untuk memahami dunia. Melalui model pembelajaran sentra, anak diposisikan sebagai pembangun aktif yang belajar dengan cara menyentuh, mencoba, dan merasakan secara langsung.

Sejak hari pertama, pelatihan ini sudah menekankan pentingnya kedamaian batin seorang guru. Pak Budi menjelaskan bahwa kenyamanan perasaan seorang guru akan menular pada suasana belajar di sekitarnya. Oleh karena itu, sebelum mengajar, guru diajak untuk menyiapkan batin dan berdoa agar menjadi perpanjangan tangan Tuhan yang tulus dalam mendampingi anak-anak. Semangat pelayanan ini selaras dengan nilai Serviam yang dihidupi oleh sekolah Ursulin. Dalam dinamika kelompok, para guru mempraktikkan konsep Insieme atau kebersamaan, di mana mereka percaya bahwa berpikir bersama jauh lebih kuat daripada berpikir sendirian. Kerja sama ini langsung diterapkan saat para guru aktif mengkritisi buku rujukan Capaian Pembelajaran (CP) dan Tujuan Pembelajaran (TP) agar target kurikulum tetap berjalan beriringan dengan nilai-nilai kasih dan karakter Katolik.

Pembahasan materi menjadi semakin menarik ketika membedah empat fondasi filosofis model sentra. Model ini menggabungkan teori konstruktivisme dari Jean Piaget dan Lev Vygotsky yang mendukung anak membangun pemahaman lewat objek nyata, serta pandangan humanisme yang melihat anak sebagai individu unik yang harus berkembang seimbang secara fisik, emosi, sosial, dan intelektual. Tidak hanya mengadopsi teori Barat, model sentra ini juga bernapas lokal karena sejalan dengan prinsip Ki Hajar Dewantara yang menjaga kodrat alam dan zaman anak lewat tuntunan Tut Wuri Handayani, serta prinsip progresivisme John Dewey yang menjadikan sekolah sebagai laboratorium pemecahan masalah sehari-hari. Berbekal fondasi ini, guru dilatih menyusun tiga jenis permainan di sentra, yaitu main sensorimotor untuk melatih pancaindra, main pembangunan untuk melatih logika ruang, dan main peran untuk mengasah kemampuan bahasa serta sosial anak.

Untuk melejitkan kemampuan literasi dan numerasi anak, workshop ini mengupas tuntas rahasia metode scaffolding atau empat pijakan guru yang tepat. Pijakan pertama dimulai dari penataan lingkungan bermain yang memancing rasa ingin tahu menggunakan bahan alam atau barang bekas (loose parts). Pijakan kedua dilakukan saat lingkaran sebelum main (circle time) untuk membahas tema dan menyepakati aturan. Pijakan ketiga terjadi saat anak bebas bereksplorasi, di mana guru bertugas memantau dan memantik ide baru. Pijakan terakhir ditutup dengan merapikan mainan bersama serta mengajak anak menceritakan kembali apa yang sudah mereka pelajari (recalling). Agar pembelajaran semakin mendalam, guru juga diajak mengintegrasikan konsep STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, Math) secara natural melalui pertanyaan pemantik terbuka yang menggunakan kata tanya "bagaimana".
Memasuki hari kedua, fokus workshop beralih pada cara merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang lebih humanis dan modern. Pak Budi menekankan bahwa prinsip-prinsip luhur seperti memuliakan anak sebagai citra Allah, kesadaran guru sebagai pilihan Tuhan, serta suasana yang menggembirakan adalah hal yang harus dihidupi langsung di kelas, bukan sekadar ditulis formalitas di atas kertas RPP. Sementara itu, hal yang wajib ditulis dalam RPP adalah pengalaman belajar nyata anak, mulai dari memahami, mengaplikasikan, hingga merefleksikan materi. Di akhir sesi, para guru dibekali sistem penilaian formatif yang melibatkan anak dan orang tua agar proses evaluasi menjadi sarana belajar yang bermakna. Melalui pelatihan dua hari yang bertahap dan menyenangkan ini, guru-guru KB-TK Surabaya dan Sidoarjo kini siap membawa perubahan berkualitas demi masa depan anak didik mereka.

Penulis: Tari (Guru KB-TK Santa Maria)