News &
Updates

News Image

Share

Mengenal Diri, Bertumbuh, dan Melayani dengan Semangat Serviam
21 Oktober 2026

Surabaya, Kampus Ursulin – Sanmaris. Bintang Kejora, Pacet — Retret KB–SMA dan Karyawan Yayasan Paratha Bhakti Surabaya digelar pada Jumat–Minggu, 16–18 Oktober 2026. Pembicara dalam kegiatan ini adalah Bapak Fidelis Wawuru, M.Sc., Ed. (Education, Training, and Consultation – Jakarta).

Di tengah kesibukan mendidik, bekerja, dan melayani, kita sering kali lupa meluangkan waktu untuk mengenal diri sendiri. Memahami diri merupakan langkah penting agar kita dapat menjalani kehidupan dan pekerjaan dengan lebih baik. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk sejenak berhenti dari rutinitas, melihat kembali perjalanan hidup, serta menemukan makna dari setiap tugas dan tanggung jawab yang dijalani.

Setiap hari selama retret diawali dengan Ibadat Pagi sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas anugerah kehidupan dan kesempatan untuk memulai hari yang baru. Dalam suasana doa, peserta diajak menenangkan hati, mempersiapkan diri, dan membuka pikiran untuk mengikuti setiap sesi dengan penuh kesadaran. Ibadat Pagi menjadi pengingat bahwa setiap kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan melayani merupakan anugerah yang patut disyukuri.

Setelah mengawali hari dalam doa, suasana semakin hangat dan penuh semangat melalui kegiatan ice breaking yang dipandu secara bergantian oleh setiap unit, yaitu KB–TK Santa Maria, SMA Santa Maria, dan Yayasan Paratha Bhakti Surabaya. Berbagai kegiatan ringan dan menyenangkan ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk bergerak, tertawa bersama, membangun keakraban, serta mempererat hubungan antar-rekan kerja.

Melalui kebersamaan tersebut, peserta menyadari bahwa retret bukan hanya menjadi ruang untuk berefleksi secara pribadi, tetapi juga kesempatan untuk saling mengenal lebih dekat sebagai satu keluarga besar Yayasan Paratha Bhakti Surabaya. Suasana yang akrab dan penuh sukacita membantu peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan hati yang lebih terbuka dan semangat yang diperbarui.

Dalam sesi utama yang dipandu oleh Bapak Fidelis Wawuru, M.Sc., Ed., peserta diajak mendalami materi Family of Origin Inventory (FoI) dan Inner Child. Materi ini menjadi kesempatan untuk memahami bagaimana pengalaman masa kecil dan pola pengasuhan dalam keluarga dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, bersikap, mengelola emosi, dan menjalin hubungan dengan orang lain.

Melalui Family of Origin Inventory (FoI), peserta diajak merefleksikan pengalaman dalam keluarga, seperti cara orang tua memberikan kasih sayang, menerapkan aturan, menghadapi masalah, dan menyelesaikan perbedaan pendapat. Pengalaman tersebut dapat membentuk kebiasaan dan cara seseorang merespons berbagai situasi hingga dewasa.

Dengan mengenali pengalaman masa lalu, peserta belajar memahami alasan di balik sikap dan perilaku yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Refleksi ini bukan untuk menyalahkan keluarga atau masa lalu, melainkan untuk membantu setiap pribadi mengenal dirinya dengan lebih baik. Peserta diajak menerima pengalaman yang telah terjadi dan menyadari bahwa selalu ada kesempatan untuk bertumbuh, belajar, serta memperbaiki diri.

Materi Inner Child mengajak peserta melihat kembali pengalaman masa kecil yang mungkin masih memengaruhi perasaan dan perilaku saat ini. Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda. Ada pengalaman yang membuat seseorang merasa dicintai dan diterima, tetapi ada pula pengalaman yang meninggalkan rasa takut, sedih, atau dorongan untuk selalu menjadi sempurna.

Melalui refleksi ini, peserta diajak menyadari bahwa nilai diri tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan atau prestasi. Melakukan kesalahan bukan berarti seseorang tidak berharga. Sebaliknya, kesalahan dapat menjadi kesempatan untuk belajar dan berkembang.

Menerima diri bukan berarti berhenti memperbaiki diri. Justru melalui penerimaan diri, seseorang belajar mengakui kekurangan, menerima masukan, mengelola emosi, dan berani berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Pemahaman ini menjadi bekal penting bagi guru dan karyawan dalam menjalankan peran serta tanggung jawabnya, baik di lingkungan kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai guru, tata usaha, dan karyawan, kita berinteraksi dengan banyak orang setiap hari, mulai dari peserta didik, rekan kerja, pimpinan, hingga orang tua murid. Cara kita berbicara dan bertindak dapat memengaruhi suasana serta kualitas hubungan di lingkungan pendidikan.

Dengan mengenal diri, kita belajar untuk lebih sabar dalam menghadapi perbedaan, mendengarkan sebelum menilai, dan menyampaikan pendapat dengan cara yang baik. Ketika anak melakukan kesalahan, kita dapat membimbingnya tanpa mempermalukan. Ketika rekan kerja memiliki pandangan berbeda, kita dapat belajar saling menghargai dan mencari solusi bersama.

Hal-hal sederhana tersebut dapat membawa perubahan yang berarti. Pemahaman terhadap diri sendiri membantu kita menjadi lebih peka terhadap perasaan orang lain, lebih bijaksana dalam mengambil keputusan, serta lebih mampu membangun komunikasi yang sehat. Dengan demikian, lingkungan pendidikan dapat menjadi tempat yang nyaman, hangat, dan mendukung setiap pribadi untuk terus berkembang.

Setelah menjalani rangkaian sesi, peserta mengikuti Ibadat Malam sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan dan kelancaran kegiatan sepanjang hari. Dalam suasana yang lebih tenang, peserta diajak melihat kembali pengalaman yang telah dilalui, mensyukuri setiap pembelajaran, serta menyadari hal-hal yang masih perlu diperbaiki dalam diri.

Ibadat Malam menjadi kesempatan untuk menyerahkan segala pengalaman, pergulatan, dan harapan kepada Tuhan. Melalui doa dan refleksi, peserta diajak membawa pulang bukan hanya pemahaman baru, tetapi juga niat untuk menerapkan nilai-nilai yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.

Pergantian suasana antara doa, refleksi, pembelajaran, dan kebersamaan menjadi bagian penting dari perjalanan retret. Setiap sesi memberikan kesempatan bagi peserta untuk belajar dari pengalaman pribadi sekaligus mempererat hubungan dengan sesama. Dengan demikian, retret menjadi ruang untuk memperbarui hati, menumbuhkan kesadaran, dan meneguhkan kembali komitmen dalam menjalankan panggilan pelayanan.

Seluruh rangkaian retret ini menjadi kesempatan untuk memperbarui semangat Serviam, yang berarti “Saya akan melayani.” Semangat ini mengajak setiap pribadi untuk melakukan tugas dengan tulus, peduli terhadap sesama, dan bersedia memberikan yang terbaik bagi kebaikan bersama.

Mengenal diri membantu kita memahami apa yang perlu dipertahankan dan apa yang perlu diperbaiki. Bertumbuh berarti berani belajar dari pengalaman, menerima masukan, dan membuka diri terhadap perubahan. Sementara itu, melayani berarti mewujudkan hasil refleksi tersebut melalui tindakan nyata, baik dalam mendampingi peserta didik, bekerja sama dengan rekan kerja, maupun memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Pada akhirnya, retret ini mengingatkan kita bahwa pelayanan yang bermakna berawal dari hati yang mau mengenal dan menerima diri, terus bertumbuh, serta terbuka terhadap sesama. Semangat Serviam tidak hanya dihidupi dalam kegiatan retret, tetapi diharapkan terus hadir dalam setiap langkah, keputusan, dan tindakan sehari-hari.

Penulis: Wenny Natalia M. Wolfe, S.Pd. (Guru KB-TK Santa Maria)